Selembar Cerita Tahsin Online Di Qibla.id
Harus Dibaca “Qul” Bukan “Kul”

Bahasa Arab memang diyakini banyak pihak sebagai bahasa yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi jika kita bandingkan dengan bahasa yang lainnya. Apabila kita keliru dalam melafazkan satu huruf saja, maka makna dari suatu kata pun akan berubah.

Jika kita memulai melafazkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, sebagai contoh pada awalan surat Al-Ikhlas yakni, kata قُلْ / “Qul” yang bermakna “Katakanlah”. Namun, apabila kita keliru dalam melafazkannya, sehingga terdengar seperti كُلْ / “Kul”. Maka maknanya dapat berubah menjadi “Makanlah”. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mempelajari setiap cabang ilmu yang berkaitan dengan cara pembacaan huruf dalam Al-Qur’an sesuai kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh syariat.

Membaca Al-Fatihah dengan Sempurna

Telah masyhur bahwa Al-Fatihah merupakan salah satu surat yang paling istimewa dalam kitab suci Al-Qur’an. Paling tidak 17 kali dalam sehari, diwajibkan bagi seorang muslim untuk melantunkan ayat demi ayat yang terkandung dalam surat ini, sebagai salah satu rukun sholat yang menjadi syarat sah dari ibadah tersebut.

Untuk itu menjadi sebuah kewajiban bagi seorang muslim, agar senantiasa membaca surat ini secara baik dan benar. Kesalahan pelafazan dalam membaca surat ini dapat berakibat fatal karena 180 derajat akan mengubah makna surat ini. Oleh karena itu, seorang muslim akan sangat dipertanyakan keabsahan ibadah sholatnya.

Mendulang Ilmu dari Halaqah Digital

Kedua catatan singkat di atas, hanyalah segelintir dari banyaknya mutiara faedah yang kami dapatkan, selama mengikuti program tahsin online yang diselenggarakan oleh QIBLA.ID sepanjang bulan Ramadhan 1441 H. Tahun ini bukanlah pertama kalinya bagi panitia dalam mengadakan program serupa. Sudah menjadi suatu rutinitas setiap bulan Ramadhan, bahkan program halaqah tahsin ini Insyaa Allah tetap berlanjut setelah rhamadan usai.

Keterbatasan bertatap muka secara langsung ternyata tidak menyurutkan semangat dan tekad menuntut ilmu para peserta. Khususnya pada Halaqah Ali Bin Abi Thalib yang sebisa mungkin setiap individunya berusaha mendapatkan banyak faedah dari musyrif kami yaitu Ustadz Heru Hafidzahullah. Faktor kesibukan kerja dan lebih lebih saat ini harus menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi yang melanda hampir seluruh negeri termasuk di Indonesia. Alhasil, aplikasi video conference “Zoom” menjadi sebuah alternatif yang dipilih, agar program halaqah tahsin tetap bisa dilaksanakan

Dalam halaqah yang berisi dua puluhan peserta ini, kembali diingatkan perihal pentingnya bagi seorang muslim untuk terus menuntut ilmu syar’i hingga liang lahat. Khususnya dalam kesempatan ini terkait bagaimana cara membaca dan memahami Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai tuntunan syariat.

Program ini Insyaa Allah terus berjalan hingga bulan Ramadhan berakhir. Namun, rasanya tidak ingin sedikitpun beranjak dari halaqah ini. Setelah taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala, tentu saja hal ini dikarenakan suasana nyaman bisa belajar bersama rekan-rekan seperjuangan yang memiliki latar belakang kehidupan dan kesibukan yang beragam. Akan tetapi tidak dijadikan alasan untuk berhenti menuntut ilmu syar’i.

Faktor tersebut pastinya perlu dipadukan dengan metode belajar yang dipilihkan Ustadz untuk mendidik kami, sehingga kami dapat lebih mudah memahami isi materi, dapat kesempatan yang luas untuk bertanya, dan dapat mendorong kami agar selalu mengevaluasi diri sesuai kemampuannya masing-masing. Lebih lanjut, harapan kami agar nantinya program ini dapat terus berjalan walaupun bulan Ramadhan tahun ini telah berlalu. Akhir kata, semoga Allah selalu menjaga serta memberikan keberkahan untuk seluruh pihak yang mendukung program ini khususnya kepada musyrif kami, Ustadz Heru Hafidzahullah.