Membangun Kesadaran

Mengawali bahasan kita tentang “Membangun Kesadaran” ini, mari sejenak kita menghayati Kisah Umar bin Khattab, Khalifah yang tegas lagi peduli dengan rakyatnya. Dalam masa kekhalifahannya, ada dua kisah menarik yang menyadarkan kita tentang pentingnya “kesadaran”.

Kisah pertama, kisah Umar dan Pengembala Kamping. Pada suatu hari, Umar bin Khattab melakukan perjalanan seorang diri  ke luar kota. Dia ingin melihat langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya.

Umar pun sampai di padang rumput. Dia melihat ada seorang anak yang sedang mengembala kambing-kambingnya. Umar sangat tertarik dengan kambing-kambing yang digembalakan anak itu. Dia pun menghampiri sang pengembala.

Umar berkata, “Wahai pengembala, banyak sekali kambing-kambingmu. Bersediakah kamu menjual seekor kambingmu itu kepadaku?”. “Maaf tuan,  kambing-kambing ini bukan milikku. Aku hanya pengembala yang bekerja menerima upah saja. Kambing-kambing yang banyak ini adalah milik tuanku,” jawab pengembala itu.

Umar pun terus membujuk pengembala itu untuk menjual kambing-kambing yang digembalakannya. Dia pun berkata, “Wahai pengembala, majikanmu tidak akan tahu jika kamu menjualnya kepadaku seekor saja. Karena tidak ada  orang  yang tahu jika kamu menjual seekor kambing milik majikanmu kepadaku.”

Si pengembala menatap wajah Umar. Dia pun berkata, “Wahai tuan, engkau benar tidak ada satu pun orang yang tahu  jika aku menjual seekor kambing milik majikanku. Tapi, di mana Allah, tuan? Dia selalu melihat apa yang diperbuat oleh makhluk-Nya.” Seketika itu Umar bin Khattab meneteskan air mata. Dia sangat kagum dengan kejujuran si pengembala yang tidak mau melakukan tindakan yang tidak terpuji.

Kisah Kedua, kisah Umar dan Putri Penjual Susu. Saat terjadi musim paceklik di Kota Madinah, Umar mengumumkan larangan bagi Penjual Susu untuk mencampurkan susu dengan air biasa sehingga jumlahnya bertambah dan kadar susu berkurang yang tentunya akan mendzholimi pembeli.

Usai pengumuman itu, pada malam harinya Umar berkeliling kota. Lelah berjalan, Umar dan sahabatnya duduk sejenak. Bersandar di salah satu rumah rakyatnya. Tak sengaja, dari luar, terdengar satu dialog antara Ibu dan anak perempuan.

Berkata si Ibu, “Anakku, mari kita campurkan susu itu dengan air”. Anaknya pun menjawab, “Tidak Ibu. Umar melarangnya tadi siang”. Ibunya melanjutkan, “Tidak mengapa, Umar tidak melihatnya”. Lantas si anak dengan penuh keyakinan menjawab, “Benar Bu, Umar tidak melihat. Tapi Tuhannya Umar (Allah) sungguh melihat”.

Ma syaa Allah. Cukuplah dua kisah di atas menjadi bukti kepada kita betapa mulianya buah kesadaran. Dalam konteks Kepengasuhan, tentu kita berharap para peserta didik menjalankan kegiatan dan mena’ati aturan berdasarkan kesadarannya, bukan karena keterpaksaan ( Ust Agus Fadilla Sandi )