Pendidikan Anak Tanggung Jawab Siapa ?

Dalam konteks ke-Indonesia-an, Pendidikan memiliki tujuan yang mulia, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Jika diperhatikan, maka dua poin pertama yang menjadi prioritas tujuan pendidikan di Bangsa ini adalah membentuk pribadi yang bertaqwa dan berakhlaq mulia.

Sudahkah melalui lembaga pendidikan yang ada saat ini banyak pelajar menjadi pribadi bertaqwa dan berakhlaq mulia?

Jika semakin hari makin marak kasus yang tak baik di kalangan pelajar, apakah ini salahnya sekolah? Siapa yang bertanggungjawab?

Sejenak kita renungi pesan berikut.

قال الإمام ابن القيم رحمه الله،

فَمن أهمل تَعْلِيم وَلَده مَا يَنْفَعهُ وَتَركه سدى؛ فقد أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَة الْإِسَاءَة.

وَأكْثر الْأَوْلَاد إِنَّمَا جَاءَ فسادهم من قبل الْآبَاء وإهمالهم لَهُم وَترك تعليمهم فَرَائض الدّين وسننه.

[تحفة المودود صـ 387]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

Barangsiapa yang menyia-nyiakan pendidikan yang bermanfaat bagi anaknya dan dia membiarkannya begitu saja, maka sungguh dia telah melakukan perbuatan yang sangat jelek terhadap anaknya.

Dan kebanyakan rusaknya akhlaq anak-anak disebabkan karena bapak mereka, sikap menyia-nyiakan orang tua terhadap pendidikan anaknya, dan tidak adanya upaya untuk mengajarkan kepada mereka perkara yang wajib dalam agama maupun yang sunnah.

Sahabat fillah. Jelaslah bahwa tanggungjawab pendidikan ada pada orangtua. Orangtua menjadi penanggungjawab utama pendidikan anak-anaknya.

Hendak kemana anak diarahkan harusnya menjadi perhatian orangtua. Sekolah, Bimbingan belajar, dan sejenisnya hanyalah menjadi sarana bagi orangtua untuk mengarahkan anaknya. Bukan malah jadi tujuan utama.

Ketika orangtua menunaikan amanah mulia ini kepada anaknya, maka wajar jika Allah firmankan,

وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّیَانِی صَغِیرࣰا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” [Surat Al-Isra’ 24]

Perhatikanlah wahai para orangtua dan pengasuh, bahwa do’a anak sholeh itu bukan gratisan. Melainkan harus ada pemenuhan syarat dan ketentuan. Apa syarat dan ketentuannya? sebagaimana mereka telah mendidik aku pada waktu kecil.

Bagaimana jika semasa kecil, anak tidak dididik oleh orangtuanya? والله أعلم

Masa kecil adalah masa lemah terhitung sejak anak lahir hingga ia sebelum baligh. Inilah periode genting bagi orangtua untuk serius mendidik anaknya.

Apakah mendidik anak harus “homeschooling”? Tidak juga.

Namun jika berbicara dari tingkatan, maka ada orangtua terbaik; ia mampu mendidik sendiri anaknya, selanjutnya adalah orangtua baik; ia sadar dengan keterbatasan dirinya akhirnya ia berupaya mencari sarana untuk mendidik anaknya, baik dengan menitipkan ke orang sholeh, ke madrasah, dan lain sebagainya, adapun yang terakhir adalah orangtua kurang baik; ia sadar dengan keterbatasannya tapi ia tidak berupaya belajar dan tidak berupaya mencari sarana untuk mendidik anaknya.

Dengan demikian, sesungguhnya Madrasah terbaik adalah Madrasah Keluarga. Di dalamnya kurikulum mutlak ada pada orangtua, karena memang tanggungjawab pendidikan ada padanya.

Adapun sekolah dan lembaga pendidikan lainnya sebenarnya hanya pelengkap membantu para orangtua yang tak mampu mendidik anaknya. Maka sekolah jangan sampai memutus peran orangtua dalam pendidikan anaknya, terlebih di masa kecil. Karena sekolah hanya pelengkap, dan akan bijak jika sekolah terus melibatkan orangtua serta dorong mereka agar kelak mampu bertanggungjawab sepenuhnya. ( Ust Agus Fadilla Sandi )